Rabu, 25 Maret 2015

Alasan yang klise, kenapa masuk IPB



(1)  Perkenalkan nama saya Nadhifa Trihapsoro, seorang mahasiswa IPB (Institut Pertanian Bogor) tingkat pertama dari fakultas kedokteran hewan. Mungkin terdengar cukup unik bagi masyarakat (khususnya siswa SMA) perkotaan khususnya Ibukota Jakarta, seorang siswa tamatan salah satu sekolah di Jakarta memilih masuk IPB dengan jurusan kedokteran hewan dimana biasanya siswa Ibukota memilih universitas-universitas bergengsi lainnya yang berkecimpung di bidang teknik atau kedokteran umum. Pilihan yang unik memang, tetapi dibalik pilihan itu ada alasan mengapa saya memilih kedokteran hewan di IPB.

Pertama, saya mempunyai cita-cita untuk menyelamatkan dan menolong satwa-satwa liar dan terancam punah guna melestarikan keanekaragaman hayati di Indonesia tidak hilang begitu saja, oleh karenanya saya memilih kedokteran hewan. Kedua, mengapa di IPB? Berdasarkan sejarahnya, IPB memiliki fakultas kedokteran hewan tertua di Indonesia, ini mengindikasikan bahwasanya IPB lebih berpengalaman mengenai kedokteran hewan dibandingkan universitas-universitas lainnya. Selain itu melihat banyaknya torehan prestasi yang dicapai oleh fakultas kedokteran hewan membuat saya semakin yakin akan kualitas dari fakultas tersebut. Ketiga,  IPB terletak di Bogor yang tidak jauh dari Jakarta, sehingga tidak perlu makan waktu dan biaya yang lebih guna menempuh pendidikan kedokteran hewan.

Mungkin banyak yang bertanya “Apakah hubungannya kedokteran hewan dengan pertanian padahal anda kuliah di Institut Pertanian Bogor yang menekankan pengembangan pertanian dan ketahanan pangan?” Ya! Tentu saja ada, dan banyak!.


(2)    Bicara soal pandangan pertanian, dari selama ini yang saya lihat dari beragam pembicaraan teman-teman sekolah dulu (yang merupakan masyarakat perkotaan). Banyak dari mereka menganggap remeh pertanian. Sebagian beranggapan bahwasanya pertanian itu kotor, melelahkan, dan keuntungnya tidak banyak bila dibandingkan dengan bidang-bidang teknik. Sebagian lainnya tidak memikirkan atau bahkan tidak tahu masalah pertanian. Itulah segelintir pandangan tentang pertanian dari sudut pandang siswa perkotaan, memang betul kita membutuhkan teknologi, tetapi jangan lupa bahwa kita makan sehari-hari juga merupakan hasil kerja keras dari petani, ibarat buat apa kita berswasembada mobil kalau ketersediaan pangan untuk bangsa saja tidak terpenuhi. Yang saya harapkan untuk kedepannya, cara pandang masyarakat pertanian berubah sehingga menambah minat di industry pertanian guna mencukupi kebutuhan pangan bangsa.

Sabtu, 22 November 2014

Akhir Tingkat 1 (Part 2: To the Top of Pangrango)

Yak, melanjutkan cerita sebelumnya mari kita simak yang berikut ini!

Perjalanan Kedua
25-26 Juli 2014
Gunung Pangrango, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat

Mungkin bisa dibilang perjalanan selama enam hari ini merupakan perjalanan yang cukup melelahkan, bagaimana tidak? begitu pulang dari pulau laki, kini aku harus bersiap-siap untuk mendaki gunung selama 2 hari. Kiranya aku tiba di kampus dramaga sekitar pukul 19.00 setelah menempuh perjalanan yang melelahkan dengan menggunakan kereta yang sudah penuh. Begitu sampai di kampus IPB, aku langsung berkemas dan merapikan barang barang yang ingin kubawa nanti pada saat naik gunung. Singkat cerita setelah beres-beres yang memakan waktu cukup lama (Ya, karena aku harus kembali ke kontrakan dengan menggunakan motor pinjeman sekret untuk mengambil dan menaruh barang serta mandi. Apesnya pada saat perjalanan kembali ke sekret bensin motornya habis ditengah jalan, terpaksa mengisi bensin dulu dengan berjala kaki ke pom bensin terdekat (Dramaga Cantik)) aku beristirahat di sekret.

Pagi hari sekitar pukul 04.00 pagi aku bergegas cabut menuju BNI depan IPB, tempatku bertemu dengan teman-temanku yang akan naik gunung. Jalanan kampus begitu gelap dan sepi ketika aku beranjak pergi. Rasanya seram jika aku bayangkan betapa gelapnya saat itu, was-was kalau-kalau ternyata ada yang muncul dari balik kegelapan, tapi untung saja ada di Coki si anjing lawalata yang turut mengantar kepergianku hingga aku mencapai titik pertemuan. Meski dijanjikan untuk berangkat jam 04.30 ujung-ujungnya kami baru berangkat pukul 05.30 karena ada temanku yang baru bangun pukul 05.00 (keterlaluan sekali -_-). Tak usah banyak cingcong akhirnya kami resmi memulai perjalanan.

Hmm... mengenai perjalanan ini sendiri bisa dibilang ini kali kedua aku mendaki gunung. Kali pertama pada waktu aku sedang menjalani diklat sispala (Carvedium), waktu itu aku mendaki ke puncak gede dengan kondisi yang yaah... bisa dibilang kurang nikmat lah, karena skill pecinta alam yang waktu itu masih kelas teri, dan sarana peralatan yang kurang mumpuni, belum lagi gojlokan mental dari senior. Kali ini, yang merupakan kali kedua, boleh dibilang pendakian santai karena kami cuma 2 hari disana untuk naik-turun gunung.

Well... singkat cerita kami memulai pendakian sekitar pukul 10 setelah cek in (walau ada sedikit masalah kecil) di balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Perjalanan ke Cibodas sendiri sebenarnya tidak begitu lama, hanya saja cukup mahal. Rp 20.000 untuk elf dari baranangsiang ke pertigaan Cibodas dan Rp 5000 untuk angkot dari pertigaan ke balai Taman Nasional. Seperti pendaki kebanyakan, kami memilih jalur pendakian Cibodas karena medan yang tidak begitu terjal dan banyak pemandangan yang bisa dilihat. Berdasarkan informasi yang kudapatkan, apabila kita melewati jalur Cibodas, kita dapat melihat beberapa pemandangan seperti Telaga Biru, Rawa Gayonggong, dan Air Panas (Benar saja, aku melihat ketiganya. Nanti kuceritakan).

Pendakian kami mulai dengan penuh semangat tentunya, dengan kaki dan punggung yang masih tegar, kami terus melangkah. Secara umum, jalur pendakian yang kami tempuh merupakan hutan sub-montan pegunungan bawah yang kaya akan lumut lumut dan tanaman paku-pakuan. Tak terlalu jauh dari pos pertama tempat kami cek in, kami akhirnya menemukan Telaga Biru. Meski dinamakan Telaga Biru, sungguh mengejutkan karena ketika kami melihat Telaga Biru yang katanya berupa kolam besar berwarna biru yang indah rupanya telah mengering tanpa sisa. Entah tahu apa sebabnya,bisa jadi mengeringnya Telaga Biru diakibatkan oleh aktivitas geotermal yang meningkat, tetapi kami tak mau banyak berspekulasi. Cuaca yang mendung dan suara elang mengiri kami yang tengah beristirahat sebentar di Telaga Biru.

 Telaga biru yang kehilangan birunya

Setelah beristirahat di Telaga Biru yang kini sudah tidak biru, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak. Tak begitu lama kami berjalan, kami kemudian melintasi apa yang disebut sebagai Rawa Gayonggong. Rawa Gayonggong merupakan sebuah rawa yang didominasi oleh ilalang tinggi yang disebut sebagai tanaman gayonggong. Menurut sejarahnya, rawa gayonggong merupakan cekungan yang tercipta akibat aktivitas vulkanik, kemudian cekungan itu terisi oleh air hujan dan menyebabkan terbentuknya rawa tersebut. Agak seram rasanya membayangkan dasar rawa yang berlumpur dan dalam, yang mungkin dipenuhi oleh hewan-hewan beracun dan ular yang besar, tetapi rasanya tidak semengerikan itu.

 Rawa gayonggong

Melewati rawa, akhirnya kami tiba di persimpangan jalan yang menuju ke puncak dan menuju ke curug Cibereum. Jalan yang semula cukup landai kini berubah menjadi tanjakan terjal yang cukup menguras energi. Beberapa jam lamanya kami berjalan, akhirnya kami tiba di Air Panas. Seperti namanya, Air Panas memang benar-benar sumber air panas. Terdapat air terjun dan aliran sungai yang memang benar-benar panas. Kali ini jalur yang dilewati cukup menantang, karena kami harus melewati sungai dan air terjun panas dengan jurang yang cukup dalam di sebelah kanan jalur dan jarak pandang yang minim akibat uap air yang beterbangan, oleh karenanya kami harus melewatinya dengan sangat berhati-hati.

Rute yang cukup menegangkan, air panas...

Pukul 15.00 setelah melewati Air Panas, kami akhirnya tiba di Kandang Badak, pos terakhir sebelum puncak Pangrango. Melihat kami yang sudah begitu kelelahan dan cuaca yang nampaknya kurang kondusif, kami memutuskan untuk mendirikan tenda disini. Benar saja, tak lama setelah kami mendirikan tenda hujan mulai mengguyur. Untung saja kami tidak melanjutkan perjalanan ke puncak, atau kami akan kebasahan. Akan tetapi, karena kami memilih tempat yang tidak pas karena tempat yang kami pilih untuk mendirikan tenda merupakan jalur aliran air, belum lagi tenda yang kami pakai cukup lusuh dan banyak cacatnya, alhasil kami tetap kebasahan meskipun di dalam tenda, bahkan yang lebih buruk di dalam tenda terdapat genangan air yang menyulitkan kami menaruh barang-barang. Ketika menjelang malam hujanpun mulai reda. Setelah modifikasi sana-sini untuk mengurangi rembesan air pada tenda, kamipun kembali masuk untuk tidur. Dengan kondisi yang tidak nyaman akibat tenda yang sempit, basah di lantai tenda, serta udara dingin pegunungan yang begitu menggigit, kami beristirahat hingga keesokan hari untuk melanjutkan pendakian.

Jalur pendakian sebelum Kandang Badak

Awalnya kami ingin melanjutkan pendakian pukul 03.00 pagi, akan tetapi kami berangkat pukul 02.00 karena keadaaan yang tidak nyaman yang membuat kami tidur tidak nyenyak sehingga daripada menunggu lebih lama lagi, lebih baik berangkat, mumpung hujan sudah berhenti. Dengan meninggalkan tenda dan barang bawaan yang tidak diperlukan di Kandang Badak, dengan 1 tas carrier yang kami bawa untuk bekal di puncak, kami melanjutkan pendakian.

Kami tiba di persimpangan pendakian dimana di persimpangan ini terdapat jalur untuk ke puncak Gede dan jalur untuk ke puncak Pangrango. Setelah persimpangan, kali ini kami harus benar-benar berhati-hati karena disamping kegelapan malam yang menyelimuti, jalanan yang kami lalui kini tambah menyempit dan menanjak. Tak banyak yang bisa kami lihat di kegelapan malam selain bintang-bintang dan kerlap-kerlip lampu kota, yang kami pikirkan hanya jalan terus.

Cukup lama kami berjalan, hingga sekitar pukul 05.30 akhirnya kami tiba di puncak pangrango, 3019 meter di atas permukaan laut. Hemm... tidak seperti yang dibayangkan, rupanya pemandangan dari puncak pangrango tidak begitu lapang jika dibandingkan dengan puncak gede, tetapi pemandangan untuk melihat matahari terbit dan puncak gede cukup menjanjikan. Terdapat kanopi lusuh untuk beristirahat sambil melihat pemandangan. Sayangnya, cuaca masih mendung dan berkabut ketika kami tiba di puncak, sehingga kami tidak dapat menyaksikan matahari terbit dengan jelas, bahkan puncak gede yang seharusnya terlihat malah tidak kelihatan.

Puncak pangrango yang... berkabut...

Kami beristirahat beberapa lama di puncak untuk mengisi perut sejenak dan menikmati pemandangan yang walaupun sebenarnya tidak begitu jelas terlihat. Tidak lama kami beristirahat rupanya hujan kembali mengguyur, sehingga kami harus menepi di kanopi lusuh untuk berteduh. Kami tidak sendiri, rupanya ada pendaki lain yang sama tidak beruntungnya dengan kami. Sebagai sesama pendaki, kami mengobrol sebentar sambil menikmati pemandangan. Rupanya mereka berasal dari kota Jogja dan pergi ke gunung Gede-Pangrango  untuk mengisi waktu liburan kuliah, sama halnya seperti kami. Setelah mengobrol cukup lama, mereka melanjutkan perjalanan ke alun-alun Mandalawangi, sedangkan kami tetap di puncak hingga hujan berhenti total.

Cukup lama kami menunggu hingga akhirnya hujan berhenti, kami melanjutkan perjalanan ke alun-alun Mandalawangi. Tak lama kami berjalan akhirnya kami tiba di alun-alun Mandalawangi. Boleh dibilang sebenarnya alun-alun Mandalawangi kalah besar dibandingkan alun-alun Surya Kencana di puncak Gede, tetapi tanaman edelweis yang lebih berlimpah dan kontur tanah yang cendrung agak miring memeberikan kesan tersendiri yang tak kalah indahnya, rasanya aku tahu mengapa sang legenda Soe Hoek Gie begitu menyukai tempat ini. Begitu takjubnya kami akan pemandangan tersebut sehingga kami memutuskan beristirahat dan berfoto-foto untuk menikmati pemandangan yang ada.

Alun-alun Mandalawangi dan semak edelweiss-nya

Kami berfoto bersama

Mungkin bagi sebagian orang, mendaki hanyalah sekedar mendaki untuk bertualang, menikmati pemandangan, dan pulang, tapi untukku pendakian kali ini tidak sesederhana itu. Satwa, ekologi, dan hutan, merupakan alasan lain mengapa aku mendaki. Karena buatku Akan menjadi suatu kesia-siaan apabila kita pergi ke alam tanpa belajar apapun darinya. Meskipun tidak sedang melakukan penelitian, aku begitu senang mencari-cari makhluk hidup yang ada di hutan untuk diamati khususnya burung, begitu juga dengan proses alam yang terjadi di dalamnya.

Dari sekian banyak yang aku amati dan temukan ada yang paling menarik perhatianku. Pada saat perjalanan, baik saat mendaki ataupun menuruni aku menemukan sejenis burung. Burung tersebut berukuran sedang, mungkin seukuran burung beo, mempunyai paruh kuning dan badan yang biru gelap mengkilap seakan-akan warnanya hitam, merupakan burung yang suka berjalan di atas tanah dan kalau jalan melompat lompat. Menariknya lagi, burung itu muncul menampakkan diri disaat para pendaki lkembali berjalan seusai istirahat. Ternyata setelah aku klarifikasi dari senior-seniorku di UKF, burung itu adalah ciung-batu siul. Menurut senior, memang burung tersebut gemar mengikuti pendaki untuk mengambil sisa-sisa makanan yang ditinggal pendaki seperti layaknya burung gagak di perkotaan. Nampaknya burung tersebut sudah cukup terhabituasi dengan para pendaki dikarenakan banyaknya pendaki yang mendaki setiap harinya.

Kembali ke perjalanan, setelah cukup lama berada di alun-alun, kami memutuskan untuk kembali dan pulang. Kami kembali menuruni puncak menuju Kandang Badak untuk berberes tenda dan packing pulang. Pukul 12.00 kami tiba di Kandang Badak, dan sejam setelahnya kami telah siap untuk turun gunung. Meskipun perjalanan terasa lebih ringan karena beban carrier yang sudah berkurang dan jalan yang turun, tetap saja itu membuat kami kelelahan. Setelah beberpa jam perjalanan yang cukup menyiksa dengkul, akhirnya kami tiba di pos awal pukul 16.00 untuk cek out. Setelah itu, kami memutuskan untuk makan dan beristirahat sebentar sebelum kami benar-benar pulang.

Walaupun kami disana hanya sebentar, puncak Pangrango telah memberikan pengalaman yang luar biasa kepada kami, yang mungkin tidak akan bisa didapatkan saat kuliah. Waktu semakin sore dan akhirnya kami memutuskan untuk pulang walaupu pada akhirnya aku sendiri yang terpencar karena aku langsung pulang, ke rumah tercinta, di kota Bekasi yang penuh sesak...

Akhir Tingkat 1 (Part 1: Journey to Pulau Laki)

Udah lama rasanya gak posting di blog ini. Aku inget postingan aku terakhir di blog ini bercerita tentang asrama TPB, dan ternyata waktu begitu cepat berlalu, sekarang aku udah naik tingkat (dari 1 ke 2).

Pasti kita semua udah tau kalo setiap kenaikan tingkat akan ada liburan tanpa terkecuali untuk pengambil semester pendek sekalipun. Mungkin untuk beberapa mahasiswa baru yang biasanya belum banyak proyek dan kesibukan, liburan yang cukup panjaaangg (bayangkan, durasinya lebih dari 2 setengah bulan, hampir sama dengan libur kelulusan SMA) bisa jadi sangat membosankan karena menganggur dan tidak ada kerjaan. Lain halnya dengan mahasiswa yang sibuk dan banyak kegiatan, waktu luang liburnya merupakan waktu untuk produktif.

Lalu, bagaimana denganku?
Boleh dibilang sebenernya aku ini merupakan mahasiswa yang belum begitu sibuk karena seperti yang sudah aku jelaskan sebelumnya, aku baru setahun disini dan belum merasakan kehidupan kampus dengan lebih mendalam, meskipun saat ini aku telah mengikuti organisasi di kampus seperti UKF (Uni Konservasi Fauna) dan Karate, tetap saja masih terasa begitu lengang karena aku bukanlah pengurus didalamnya. Hal tersebut membuat aku mendapatkan banyak waktu untuk berekreasi dan berjalan-jalan bersama teman-teman. Salah satunya adalah apa yang aku alami pada tanggal 21 hingga 26 Juni 2014, mau tau cerita lebih lanjut? jangan kemana-mana, tetap di BUKAN 4 M*TA #eh....

[BEWARE OF LONGPOST]

Perjalanan Pertama
21-24 Juli 2014
Pulau Laki, Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI Jakarta

Yap, perjalanan pertamaku yaitu ke Pulau Laki, sebuah pulau kecil tak berpenghuni yang masih masuk gugus Kepulauan Seribu. Aku pergi kesana bersama seorang teman dan senior-senior dari Unit Kegiatan Mahasiswa Uni Konservasi fauna yang totalnya berjumlah 7 orang termasuk aku dalam rangka eksplorasi keanekaragaman fauna dikarenakan minimnya data mengenai fauna khususnya fauna perairan dan burung yang berada di pulau tersebut, sekalian juga untuk memperkaya skill dan pengalaman kami para angkatan baru. Meski terkesan ilmiah, buatku perjalanan ini merupakan suatu rekreasi tersendiri.

Secara umum, pulau kecil (sekitar 1,5 hektar) yang tidak berpenghuni ini merupakan pulau yang terselimuti oleh hutan tanaman dataran rendah dan pantai berpasir pada sisi selatan dan hutan bakau (mangrove) pada sisi lainnya. Menurut nelayan setempat pulau tersebut dulunya merupakan tempat wisata yang dikelola oleh sesaorang, akan tetapi karena suatu masalah pulau tersebut akhirnya diserahkan ke TNI AL, dibiarkan tidak berpenghuni hingga sekarang ini. Karena dulunya merupakan tempat wisata, di pulau ini masih tersisa puing-puing bangunan. Untuk menuju pulau ini, dapat menggunakan kapal dari pelabuhan Tanjung Kait.

Mungkin perjalanan kami terlihat seperti liburan yang murah meriah bukan? pada kenyataannya kami harus merogoh kocek yang cukup banyak sebesar Rp.250.000 dimana sebagian besar biayanya ditujukan untuk transportasi (Angkot-Angkot-Kereta-Angkot-Angkot-Kapal). Jangan pernah membandingkan dengan paket liburan ke pulau "murah" dengan hotel berbintang senilai Rp. 1.500.000 karena buat kami para mahasiswa yang agak sering duitnya seret 250 ribu itu termasuk mahal.

Harga sebanding dengan kenikmatan, begitulah yang kami alami di eksplorasi pulau Laki ini. Harus menginap di tenda, memasak sendiri dengan menggunakan tungku api, dan segala aktifitas pemenuhan kegiatan di lapangan merupakan hal yang biasa bagi kami. Akan tetapi namanya juga kegiatan di alam bebas, tidak terlepas juga dari beberapa masalah. Persediaan air minum yang terbatas merupakan masalah yang menurutku paling gawat. Tidak adanya sumber air bersih layak minum di pulau membuat kami harus membawa air sendiri, sedangkan sumber air yang ada di pulau hanya layak untuk mencuci meskipun airnya tawar. Celakanya, pada saat perjalanan, hanya beberapa orang di antara kami yang membawa air mineral botol sehingga kami harus benar-benar berhemat dalam penggunaannya. Untungnya pihak TNI-AL memberi kita satu galon air mineral, meskipun tetap saja kami kekurangan. Masalah lainnya adalah nyamuk yang begitu merajalela. Bayangkan saja dalam sekejap berada di sana, lebih dari sepuluh nyamuk sekaligus menghisapi darah kita, dan itu benar-benar sangat mengganggu dan membuat tidak konsentrasi. Begitu banyak dan ganas nyamuk disana membuat kulit yang tadinya bersih menjadi berbekas bintik-bintik seperti cacar air.

Hutan penuh nyamuk yang kami jelajahi

Meski disana selama 4 hari, pengamatan sesungguhnya hanyalah 2 hari dikarenakan hari pertama  untuk perjalanan berangkat dan survey, sedangkan hari terakhir untuk perjalanan pulang. Pengamatan dibagi menjadi 2 bagian, yaitu fauna perairan dan burung, aku sendiri mengikuti pengamatan burung. Pengamatan fauna perairan dilakukan di sepanjang pesisir pantai barat pulau yang cukup dangkal kaya akan tanaman bakau. Pengamatan burung dilakukan denngan dua jalur yaitu jalur mengelilingi pantai di pagi hari dan jalur melintasi hutan di sore hari. Meski menggunakan dua jalur, kami berfokus pada pencarian burung pantai.

Melewati pesisir pantai sebelah barat

Selama pengamatan kami menemukan banyak jenis burung, sebagian besar sudah pernah kami jumpai seperti remetuk laut (Gerygone sulphurea), merbah cerucuk (Pycnonotus goiavier), Cekakak sungai (Todiramphus chloris), burung madu sriganti (Nectarinia jugularis), Perkutut (Geopelia striata), ada juga beberapa jenis yang sebelumnya belum pernah kulihat seperti pergam laut (Ducula bicolor), gagak hutan (Corvus enca),  kuntul karang (Egretta sacra), dan burung lainnya yang totalnya mencapai 27 jenis. Dari semua burung yang kutemui kowak malam kelabu lah yang nampaknya paling mendominasi. Begitu banyak kowak yang bertengger dan beterbangan dan rasanya seperti danau LSI (danau di dekat perpustakaan IPB) dipindahkan ke pulau laki. BEgitu abnyak burung yang kami jumpai, tetapi sayang kami tidak bisa menemukan burung pantai.

Terlepas dari pengamatan sepanjang pengamatan pagi aku terkesima dengan padang anemon laut berwarna warni yang kulewati. Begitu banyak anemon laut terhampar luas di beberapa titik pesisir pulau. Selain anemon terdapat juga teripang, bintang laut, ubur-ubur, dan umang-umang yang banyak tersebar di sepanjang pesisir pantai barat. Selain hewan-hewan tersebut ternyata kami juga menemukan gurita pada pantai berbatu, dan sekelompok monyet ekor panjang di pinggiran hutan. Di dalam hutan, selain burung dan monyet, tidak begitu banyak hewan yang menarik. Selama kami melintasi hutan, nyamuk yang bertaburan begitu ganasnya menggigiti kulit kami, selain itu juga bekicot-bekicot yang berlalu lalang (di pulau ini terdapat banyak sekali bekicot) yang selalu mengotori sepatu kami karena sering terinjak-injak. Menjelang malam, ratusan kecoak spesies Periplanetta americana (kecoak rumah) berkeliaran di sekitar reruntuhan bangunan dan pohon beringin. Menurut nelayan setempat, di pulau ini terdapat banyak biawak dan ular, akan tetapi selama empat hari ini kami tidak menemukan satupun.

Anemon, salah satu keindahan di pulau Laki

Hemm... sungguh memang pulau Laki diluar dugaan, gak nyangka di pulau yang notabene sekecil itu bisa menyimpan beragam macam kekayan fauna didalamnya. Akan tetapi sayang seribu sayang pulau ini telah tercemari dengan tangan-tangan kotor manusia. Dapat dilihat di sepanjang pesisir pantai sampah yanng begitu menumpuk, khususnya di bagian selatan pulau yang berhadapan langsung dengan pulau jawa. Selain sampah, perburuan burung juga menjadi masalah yang kerap kali terjadi di pulau ini. Berdasarkan pengamatan di lapangan, para pemburu yang merupakan nelayan menggunakan jaring kabut untuk menjerat burung. Alangkah kasihannya burung yang tadinya bebas merdeka menjadi terkurung di sangkar. Aku khawatir apabila terus diburu, burung-burung yang ada di pulau ini akan menjadi semakin sedikit, dan lama kelamaan bisa punah.


Sampah yang mengotori pesisir pantai

Rasanya empat hari bagiku tidak cukup untuk menjelajahi satu pulau ini, aku masih penasaran apa lagi yang ada di dalamnya. Meninggalkan pulau ini rasanya senang bercampur sedih, senang karena dapat pulang dan bertemu dengan kemewahan dunia, sedih karena berpisah dengan pulau yang menyimpan begitu banyak keragaman. Akhirnya dengan waktu yang sudah habis dan perbekalan yang semakin menipis, tanggal 24 Juli 2014 siang hari, kami kembali ke daratan dengan letih.

 
Sunset, keindahan lainnya yang bisa kami nikmati

[To Be Continue...]