Sabtu, 22 November 2014

Akhir Tingkat 1 (Part 1: Journey to Pulau Laki)

Udah lama rasanya gak posting di blog ini. Aku inget postingan aku terakhir di blog ini bercerita tentang asrama TPB, dan ternyata waktu begitu cepat berlalu, sekarang aku udah naik tingkat (dari 1 ke 2).

Pasti kita semua udah tau kalo setiap kenaikan tingkat akan ada liburan tanpa terkecuali untuk pengambil semester pendek sekalipun. Mungkin untuk beberapa mahasiswa baru yang biasanya belum banyak proyek dan kesibukan, liburan yang cukup panjaaangg (bayangkan, durasinya lebih dari 2 setengah bulan, hampir sama dengan libur kelulusan SMA) bisa jadi sangat membosankan karena menganggur dan tidak ada kerjaan. Lain halnya dengan mahasiswa yang sibuk dan banyak kegiatan, waktu luang liburnya merupakan waktu untuk produktif.

Lalu, bagaimana denganku?
Boleh dibilang sebenernya aku ini merupakan mahasiswa yang belum begitu sibuk karena seperti yang sudah aku jelaskan sebelumnya, aku baru setahun disini dan belum merasakan kehidupan kampus dengan lebih mendalam, meskipun saat ini aku telah mengikuti organisasi di kampus seperti UKF (Uni Konservasi Fauna) dan Karate, tetap saja masih terasa begitu lengang karena aku bukanlah pengurus didalamnya. Hal tersebut membuat aku mendapatkan banyak waktu untuk berekreasi dan berjalan-jalan bersama teman-teman. Salah satunya adalah apa yang aku alami pada tanggal 21 hingga 26 Juni 2014, mau tau cerita lebih lanjut? jangan kemana-mana, tetap di BUKAN 4 M*TA #eh....

[BEWARE OF LONGPOST]

Perjalanan Pertama
21-24 Juli 2014
Pulau Laki, Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI Jakarta

Yap, perjalanan pertamaku yaitu ke Pulau Laki, sebuah pulau kecil tak berpenghuni yang masih masuk gugus Kepulauan Seribu. Aku pergi kesana bersama seorang teman dan senior-senior dari Unit Kegiatan Mahasiswa Uni Konservasi fauna yang totalnya berjumlah 7 orang termasuk aku dalam rangka eksplorasi keanekaragaman fauna dikarenakan minimnya data mengenai fauna khususnya fauna perairan dan burung yang berada di pulau tersebut, sekalian juga untuk memperkaya skill dan pengalaman kami para angkatan baru. Meski terkesan ilmiah, buatku perjalanan ini merupakan suatu rekreasi tersendiri.

Secara umum, pulau kecil (sekitar 1,5 hektar) yang tidak berpenghuni ini merupakan pulau yang terselimuti oleh hutan tanaman dataran rendah dan pantai berpasir pada sisi selatan dan hutan bakau (mangrove) pada sisi lainnya. Menurut nelayan setempat pulau tersebut dulunya merupakan tempat wisata yang dikelola oleh sesaorang, akan tetapi karena suatu masalah pulau tersebut akhirnya diserahkan ke TNI AL, dibiarkan tidak berpenghuni hingga sekarang ini. Karena dulunya merupakan tempat wisata, di pulau ini masih tersisa puing-puing bangunan. Untuk menuju pulau ini, dapat menggunakan kapal dari pelabuhan Tanjung Kait.

Mungkin perjalanan kami terlihat seperti liburan yang murah meriah bukan? pada kenyataannya kami harus merogoh kocek yang cukup banyak sebesar Rp.250.000 dimana sebagian besar biayanya ditujukan untuk transportasi (Angkot-Angkot-Kereta-Angkot-Angkot-Kapal). Jangan pernah membandingkan dengan paket liburan ke pulau "murah" dengan hotel berbintang senilai Rp. 1.500.000 karena buat kami para mahasiswa yang agak sering duitnya seret, 250 ribu itu termasuk mahal.

Harga sebanding dengan kenikmatan, begitulah yang kami alami di eksplorasi pulau Laki ini. Harus menginap di tenda, memasak sendiri dengan menggunakan tungku api, dan segala aktifitas pemenuhan kegiatan di lapangan merupakan hal yang biasa bagi kami. Akan tetapi namanya juga kegiatan di alam bebas, tidak terlepas juga dari beberapa masalah. Persediaan air minum yang terbatas merupakan masalah yang menurutku paling gawat. Tidak adanya sumber air bersih layak minum di pulau membuat kami harus membawa air sendiri, sedangkan sumber air yang ada di pulau hanya layak untuk mencuci meskipun airnya tawar. Celakanya, pada saat perjalanan, hanya beberapa orang di antara kami yang membawa air mineral botol sehingga kami harus benar-benar berhemat dalam penggunaannya. Untungnya pihak TNI-AL memberi kita satu galon air mineral, meskipun tetap saja kami kekurangan. Masalah lainnya adalah nyamuk yang begitu merajalela. Bayangkan saja dalam sekejap berada di sana, lebih dari sepuluh nyamuk sekaligus menghisapi darah kita, dan itu benar-benar sangat mengganggu dan membuat tidak konsentrasi. Begitu banyak dan ganas nyamuk disana membuat kulit yang tadinya bersih menjadi berbekas bintik-bintik seperti cacar air.

Hutan penuh nyamuk yang kami jelajahi

Meski disana selama 4 hari, pengamatan sesungguhnya hanyalah 2 hari dikarenakan hari pertama  untuk perjalanan berangkat dan survey, sedangkan hari terakhir untuk perjalanan pulang. Pengamatan dibagi menjadi 2 bagian, yaitu fauna perairan dan burung, aku sendiri mengikuti pengamatan burung. Pengamatan fauna perairan dilakukan di sepanjang pesisir pantai barat pulau yang cukup dangkal kaya akan tanaman bakau. Pengamatan burung dilakukan denngan dua jalur yaitu jalur mengelilingi pantai di pagi hari dan jalur melintasi hutan di sore hari. Meski menggunakan dua jalur, kami berfokus pada pencarian burung pantai.

Melewati pesisir pantai sebelah barat

Selama pengamatan kami menemukan banyak jenis burung, sebagian besar sudah pernah kami jumpai seperti remetuk laut (Gerygone sulphurea), merbah cerucuk (Pycnonotus goiavier), Cekakak sungai (Todiramphus chloris), burung madu sriganti (Nectarinia jugularis), Perkutut (Geopelia striata), ada juga beberapa jenis yang sebelumnya belum pernah kulihat seperti pergam laut (Ducula bicolor), gagak hutan (Corvus enca),  kuntul karang (Egretta sacra), dan burung lainnya yang totalnya mencapai 27 jenis. Dari semua burung yang kutemui kowak malam kelabu lah yang nampaknya paling mendominasi. Begitu banyak kowak yang bertengger dan beterbangan dan rasanya seperti danau LSI (danau di dekat perpustakaan IPB) dipindahkan ke pulau laki. BEgitu abnyak burung yang kami jumpai, tetapi sayang kami tidak bisa menemukan burung pantai.

Terlepas dari pengamatan sepanjang pengamatan pagi aku terkesima dengan padang anemon laut berwarna warni yang kulewati. Begitu banyak anemon laut terhampar luas di beberapa titik pesisir pulau. Selain anemon terdapat juga teripang, bintang laut, ubur-ubur, dan umang-umang yang banyak tersebar di sepanjang pesisir pantai barat. Selain hewan-hewan tersebut ternyata kami juga menemukan gurita pada pantai berbatu, dan sekelompok monyet ekor panjang di pinggiran hutan. Di dalam hutan, selain burung dan monyet, tidak begitu banyak hewan yang menarik. Selama kami melintasi hutan, nyamuk yang bertaburan begitu ganasnya menggigiti kulit kami, selain itu juga bekicot-bekicot yang berlalu lalang (di pulau ini terdapat banyak sekali bekicot) yang selalu mengotori sepatu kami karena sering terinjak-injak. Menjelang malam, ratusan kecoak spesies Periplanetta americana (kecoak rumah) berkeliaran di sekitar reruntuhan bangunan dan pohon beringin. Menurut nelayan setempat, di pulau ini terdapat banyak biawak dan ular, akan tetapi selama empat hari ini kami tidak menemukan satupun.

Anemon, salah satu keindahan di pulau Laki

Hemm... sungguh memang pulau Laki diluar dugaan, gak nyangka di pulau yang notabene sekecil itu bisa menyimpan beragam macam kekayan fauna didalamnya. Akan tetapi sayang seribu sayang pulau ini telah tercemari dengan tangan-tangan kotor manusia. Dapat dilihat di sepanjang pesisir pantai sampah yanng begitu menumpuk, khususnya di bagian selatan pulau yang berhadapan langsung dengan pulau jawa. Selain sampah, perburuan burung juga menjadi masalah yang kerap kali terjadi di pulau ini. Berdasarkan pengamatan di lapangan, para pemburu yang merupakan nelayan menggunakan jaring kabut untuk menjerat burung. Alangkah kasihannya burung yang tadinya bebas merdeka menjadi terkurung di sangkar. Aku khawatir apabila terus diburu, burung-burung yang ada di pulau ini akan menjadi semakin sedikit, dan lama kelamaan bisa punah.


Sampah yang mengotori pesisir pantai

Rasanya empat hari bagiku tidak cukup untuk menjelajahi satu pulau ini, aku masih penasaran apa lagi yang ada di dalamnya. Meninggalkan pulau ini rasanya senang bercampur sedih, senang karena dapat pulang dan bertemu dengan kemewahan dunia, sedih karena berpisah dengan pulau yang menyimpan begitu banyak keragaman. Akhirnya dengan waktu yang sudah habis dan perbekalan yang semakin menipis, tanggal 24 Juli 2014 siang hari, kami kembali ke daratan dengan letih.

 
Sunset, keindahan lainnya yang bisa kami nikmati

[To Be Continue...]







Jumat, 29 November 2013

Kamarku Istanaku

Yah, kembali lagi bersama ane, dan kali ini ane bakal share tentang kamar 56, kamar ane tercinta di asrama. Mau tau bagaimana kamarnya? ini dia!


JENGJENG!!

Eh, sori bukan yang ini denk, ini lorong ane, lorong 5. Lorong yang penuh dinamika dan banyak orang yang gak jelas, termasuk yg ada di foto diatas ahahah (peace). 

Oke, serius, ini dia kamar ane!

TADAA!! mungkin terlihat cukup berantakan yah? yah, beginilah memang keadaannya, tapi jan salah, diantara 2 kasur dan meja yang ada di foto itu, ane kgk nempatin keduanya, tapi disisi lain dari foto itu. Bagaimana? penasaran? ini dia!



Yah, itu dia, sudut dari kamar yang ane tempatin, ane tidur di ranjang atas dan belajar di meja di sebelahnya, cukup rapi bukan?? ahahahahha (memuji diri sendiri).  Mungkin dari foto itu u bisa liat kalo kondisi ranjang dan meja belajar ane cukup menggenaskan, kenapa? u bisa liat ada coretan Tip-Ex di ranjang ane yg isinya community apalah itu gajelas, belom lagi kalo diperhatiin dengan baik, kasur ane keropos dimakan rayap, mungkin dalam janga waktu 1 tahun bakal rubuh itu ranjang ahahahha.

Yah, tapi walau begitu ane tetep cinta kamar ane sendiri, kamar yg bisa buat tidur males-malesan, maen PES, nonton Anime, pokoknya banyak dah hehehe (belajarnya gak ada -__-). yah, cukup sekian mungkin ya, sori kalo ada yg tersinggung, ini semata cuma buat pamer kok #eh sekali lagi maaf....

Cukup sekian, bye!

Kamis, 21 November 2013

Sebuah Sudut Perenungan

Pagi itu, sekitar pukul 04.30, diriku sudah beranjak dari tempat tidur untuk menyongsong pagi. Dengan penuh semangat aku bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat di kampus tercinta IPB, tempat dimana aku bisa melepas penat dan pikiranku selama ini. Setelah semuanya beres, aku langsung bergegas pergi meninggalkan asrama menuju ke tempat tersebut.

Tempat itu adalah Danau LSI, sebuah danau yang terletak tidak jauh dari perpustakaan IPB. Sebuah danau yang tidak begitu besar tetapi memiliki pemandangan yang menyejukkan mata. Danau ini terbagi menjadi dua area oleh sebuah bendungan. Di atasnya terdapat jembatan yang menghubungkan kompleks rektorat dengan kompleks LSI.

Dari jembatan, aku bisa melihat pemandangan yang memanjakan mata. Apabila aku menengok pemandangan di sebelah kanan (dari arah perpustakaan menuju rektorat), aku akan melihat pemandangan yang sangat liar. Liar karena yang kulihat adalah hamparan danau berawa yang pada tepiannya dikelilingi oleh hutan karet. Kawanan burung bangau  yang terbang atau hinggap pada pohon mati di pinggiran danau dan biawak yang kadangkala berenang melintasi danau turut menambah nuansa liar pada danau ini. Jika dilihat dengan saksama, pemandangan yang bisa kulihat ini ibarat Sungai Amazon di IPB.

 Amazon in IPB


Sisi lain dari "Amazon IPB"

Pemandangan di sebelah kiri jembatan tidaklah seliar pemandangan di sisi yang satunya. Tidak dikelilingi oleh hutan, pinggiran danau di sisi ini hanya ditumbuhi oleh sejumlah pepohonan dan semak belukar yang menyamarkan permukaan air. Meski tidak begitu liar, pemandangan pada sisi ini nampak lebih indah. Terkadang beberapa jenis burung seperti kareo padi dan raja udang berlalu lalang mencari mangsa. Selain itu sering terdengar kicau burung kutilang atau emprit juga betet yang menambah keindahan sisi tersebut. Di kejauhan terdapat sebuah jembatan batu yang menandakan ujung dari danau LSI, dan kesanalah aku akan menuju.


Pemandangan pagi dari sebuah jembatan batu
 
Jalan menuju tempat itu tidaklah segampang menyeberang jalan. Aku harus menuruni bukit dan melintasi rimbunan semak yang begitu tebal untuk sampai ke tepi danau, terkadang aku tergelincir saat menuruni bukit atau tergores duri tanaman saat melintasi semak. Sesampainya di tepi danau, aku masih harus berjalan lagi, dan kali ini aku harus lebih berhati-hati karena rumput yang aku pijak dapat menyamarkan permukaan danau yang berlumpur, bisa saja aku tercebur jika aku salah melangkah. Sampailah aku di jembatan.


Aku dan jembatan batu


Semak belukar di sekitar jembatan batu

Dari jembatan batu dengan diwarnai oleh mentari pagi yang menyinari panorama indah Danau LSI, dan ditemani kicauan burung, aku merenung akan hidupku, masalahku, dan pembelajaranku. Terkadang hidup ini begitu runyam bila dipikirkan, namun semua itu akan sirna apabila kau merenungkannya di tempat yang tepat. Bagiku inilah tempat yang tepat.

Tidak terasa sudah 30 menit lebih aku duduk termenung. Sekarang pukul 07.30 pagi dan aku harus segera pergi, pergi meninggalkan sebuah sudut perenungan yang tenang menuju rutinitas yang remang.